Home / LIFE STORY / Detox EMOSI : Badan Jadi Sehat, Hati pun Bahagia
Foto : www.bobrov4.ru | Beautiful Young Woman Relaxing outdoors. Nature
Foto : www.bobrov4.ru | Beautiful Young Woman Relaxing outdoors. Nature

Detox EMOSI : Badan Jadi Sehat, Hati pun Bahagia

Lazimnya orang memahami bahwa biasanya fisiklah yang perlu detoksifikasi dari polusi, racun, dan zat-zat berbahaya lain dari lingkungan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa emosi kita pun penuh sesak dengan toksin, yang kita peroleh dari pengalaman sehari-hari. Bagaimana cara mendetoks emosi?

Tahukah Anda bahwa emosi pun perlu didetoks? Karena sebenarnya, seperti yang disampaikan oleh Louise Smart BA, seorang konselor holistik dan stress management consultant,  sepanjang perjalanan hidup manusia, kita sering menyimpan emosi-emosi yang tidak menyenangkan, seperti kemarahan, dendam, duka, dan rasa takut. Dan ternyata, emosi-emosi negatif itu bisa menghalangi kita dalam mencapai tujuan-tujuan hidup yang hendak kita capai, kesuksesan, dan tentu saja, kebahagiaan.

Bisa jadi, kita merasa telah berhasil mengusir rasa-rasa yang negatif itu. Tapi nyatanya tanpa disadari, kita hanya memasukkan memori yang tidak nyaman itu jauh ke alam bawah sadar kita, bukan menghilangkan. ”Yang kita sebut sebagai meredam emosi, sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Emosi-emosi negatif yang ditekan itu, akhirnya akan mendominasi emosi positif kita, dan memunculkan perilaku-perilaku yang sifatnya agresif,” kata Dra Rani Anggraeni Dewi, MA, pendiri Yayasan Indonesia Bahagia yang juga adalah seorang konselor masalah keluarga dan perkawinan.

Yang harus diwaspadai, gangguan emosi bisa menular ke orang lain. ”Emosi itu punya kekuatan yang mempengaruhi orang dan lingkungannya serta berdampak pada perilaku orang, baik secara positif maupun negatif,” kata Rani. Perilaku agresif, fitnah, atau membicarakan sisi negatif orang lain di belakang adalah bentuk-bentuk emosi negatif yang bisa ditularkan ke orang lain. ”

Ketika kita menyiarkan emosi negatif, kita bisa meracuni orang lain,” kata Rani. Ia mencontohkan, jika seorang pimpinan memiliki gangguan emosi, mungkin ia akan menggunakan kata-kata yang tidak santun, kasar, dan menyakitkan saat berbicara dengan karyawannya. Akibatnya, para karyawan merasa tidak nyaman bekerja, dan akhirnya ikut-ikutan menjadi agresif juga.

Check Also

Foto | Miniso Indonesia

MINISO GRAND OPENING : Menjanjikan Gaya Hidup Simple dan Berkualitas

Satu lagi gerai produk berkelas dari Jepang, MINISO hadir di Indonesia. MINISO merupakan sebuah merek …