Home / GREEN LIFE / Living / Green Marketing, Bukan Pemasaran Biasa
Green Marketing

Green Marketing, Bukan Pemasaran Biasa

Kesadaran masyarakat terhadap isu-isu seputar lingkungan yang semakin tinggi, membuat perusahaan besar maupun kecil ikut menyesuikan diri dengan tema-tema lingkungan dalam strategi pemasaran mereka. Sudah sesuai dan tuluskah usaha mereka dalam merangkul kebutuhan konsumen?

Hampir di setiap sudut jalanan ibukota muncul iklan dengan slogan go green. Berbagai perusahaan tampaknya mulai mengusung tema lingkungan dalam stretegi pemasarannya.  Go Green ala BNI, misalnya  untuk produk KPR Griya Hijau BNI yang mengusung tema green dalam konsep pembangunannya. Begitu juga Go Green ala Excelcomindo, yang mengusung slogan Go Green Go Paperless. Atau hypermart seperti Carrefour, yang mulai menawarkan paket Tas Hijau bagi pelanggannya serta PT. LG Electronics  dengan produk-produk yang mereka klaim ramah  terhadap lingkungan.

Sebagai sebuah strategi pemasaran, tujuan mereka semua sama. Yaitu bagaimana merespon keinginan pasar  yang mulai peduli terhadap lingkungan. Isu-isu lingkungan yang mereka bawa dalam iklan-iklannya memang merupakan strategi baru di dunia pemasaran. Mereka menyebutnya dengan istilah green marketing, atau Environmental Marketing and Ecological Marketing.Terjemahannya secara bebas adalah “pemasaran hijau”.  Salah satu konsep pemasaran etis yang sebenarnya sudah lama berkembang dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumen yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

CSR sebagai Green Marketing

Disebutkan dalam artikel berjudul, “Green Marketing Mahal”( Marketing/edisi, September 2009 : 42), dijelaskan bahwa kesadaran dunia usaha terhadap lingkungan sudah mengemuka sejak tahun 70-an. Namun, masih dalam bentuknya yang sederhana, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). Barulah, di sekitar tahun 80-an sampai akhir 90-an, aktivitas green marketing yang sesunguhnya mulai muncul. Penelitian John Grant yang dirilis dalam bukunya The Green Marketing Manifesto,menyebutkan bahwa pada tahun – tahun tersebut, beberapa peristiwa besar dunia, hingga lahirnya Partai Hijau yang menguat di Inggris,  membuat kepekaan dunia usaha terhadap isu lingkungan semakin tinggi. Munculnya, kemudian di era ini berbagai merek dagang seperti  The Body Shop (TBS), Ecover, Naturals Range, Down to Earth dan lain-lain.

Dalam buku TheGreenMarketingManifesto disebutkan, tujuan greenmarketingdibagi dalam tiga  tahap yaitu,  green,  yang bertujuan ke arah berkomunikasi bahwa merek atau perusahaan memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup. Selanjutnya greener, yang tujuannya selain untuk komersialisasi sebagai tujuan utama perusahaan, juga bertujuan  untuk ikut mengubah gaya konsumen dalam mengonsumsi atau memakai produk. Misalnya dalam penghematan kertas, menganjurkan menggunakan kertas bekas ( recycle). Terakhir adalah greenest , pada level ini perusahaan berusaha merubah budaya konsumen ke arah yang lebih peduli terhadap lingkungan hidup.

Menurut American Marketing Association  lewat strategi green marketing ini, pemasaran suatu produk diasumsikan sebagai produk yang ramah lingkungan. Namun apakah kampaye yang digembar-gemborkan tersebut dapat direalisasikan secara nyata, sehingga konsumen merasa puas dan percaya. Untuk itulah, maka ada beberapa aktivitas yang perlu diselaraskan, seperti modifikasi produk, perubahan dalam proses, pergantian packaging, bahkan perubahan pada promosi, yang semua harus dapat merepresentasikan sesuai dengan tema green marketing yang diusungnya.

Check Also

Sehat alami - green konsumen- memilah sampah bersama

Menjadi Green Consumer, Sekarang Juga!

Persoalan lingkungan menjadi ancaman bagi semua negara, termasuk Indonesia. Apa yang bisa kita lakukan? Menjadi …