Home / LIFE STORY / Headline / Mengenal Cara Kerja Herba dalam Pengobatan Kanker
Foto | www.dalbinderbains.co.uk
Foto | www.dalbinderbains.co.uk

Mengenal Cara Kerja Herba dalam Pengobatan Kanker

Bukan rahasia lagi jika tanaman berkhasiat obat atau herba dalam berbagai bentuk seperti ramuan, jamu, bubuk, maupun bentuk lain telah dikenal luas sebagai salah satu bentuk pengobatan tradisional yang paling banyak dilirik dalam menangani penyakit kanker.

Namun demikian sering terjadi salah persepsi, sehingga pengobatan sering tidak berjalan sebagaimana mestinya. Beberapa faktor yang membuat pengobatan dengan menggunakan herba tidak berjalan sesuai yang diharapkan misalnya karena kurangnya pemahaman pasien mengenai tata cara pengobatan herba yang efektif, aman, dan benar.

Dr Arijanto Jonosewojo, SpPD, dari Poliklinik Pengobatan Komplementer dan Alternatif RS Dr Soetomo, Surabaya, dalam sebuah kesepatan seperti banyak dikutip media nasional, misalnya mengatakan bahwa tidak sedikit penderita kanker yang menjalani pengobatan herba tanpa konsultasi pada dokter atau herbalis. Sebagian dari mereka mengadaptasi herba berdasarkan kesaksian orang atau kepercayaan terhadap efektivitas herba tertentu yang beredar di masyarakat.

( Baca juga : Kanker, Waspadai, dan Cegah Lewat Deteksi Dini )

Padahal, tidak setiap jenis herba cocok bagi setiap orang. Sebab, meskipun jenis kankernya sama, namun kondisi setiap orang bisa berbeda-beda, sehingga jenis dan dosisnya pun tidak sama untuk setiap orang dan setiap penyakit.

Dr Arijanto berpendapat, penelitian terhadap herba di Indonesia umumnya masih sebatas uji pre-klinis (percobaan terhadap binatang) atau pengamatan kasus per kasus, sehingga dosis, efek, serta efektivitas herba pada setiap penderita bisa bervariasi. Karena itu, pengobatan herba untuk kanker tidak bisa dipukul rata untuk setiap kasus dan penderitanya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kenyataan bahwa masih terbatasnya jenis herba yang sudah diuji secara klinis, dan diisolasi menjadi obat medis yang dapat diberikan sebagai kemoterapi – sehingga disebut obat, atau berperan sebagai obat. Beberapa di antaranya vincristine, vinblastine, vindesine, venorelbin (dibuat dari tapak dara), dan taxol (pacific yew).

Membunuh sel kanker

C. Leigh Broadhurst, PhD dalam tulisannya yang berjudul ”How Do Plants Help Prevent Cancer” (Herbs for Health, Januari 2000), menuturkan herba yang dikatakan mengobati kanker belum tentu mampu membunuh sel kanker.

Meski begitu, herba-herba tersebut memang memiliki peran sebaai penyuplai antioksidan (kunyit, daun basil, bawang putih; jamur shiitake, reishi, maitake, dsb), penghambat perkembangan sel kanker (lidah buaya, kecambah, jintan, tapak dara, keladi tikus), membantu meningkatkan stamina (ginseng, jahe), atau melindungi hati dari kerusakan akibat penggunaan obat jangka panjang sekaligus mengurangi efek samping terapi seperti mual, muntah, dan tidak napsu makan (lidah buaya, temulawak).

Jika disebut mampu memberikan efek mengobat, sebenarnya lebih tepat jika dikatakan bahwa herba-herba tersebut bekerja secara tidak langsung, dengan cara meningkatkan sistem pertahanan tubuh. ”Daya tahan tubuh yang baik inilah yang ikut menghambat perkembangan sel kanker, dan lebih tepat disebut membantu mengobati,” tutur Dr Arijanto dalam sebuah kesempatan.

Yang harus dilakukan sebelum konsumsi herba
Karenanya, hal penting yang harus dilakukan sebelum mengkonsumsi herba untuk pengobatan kanker adalah konsultasi terlebih dahulu dengan praktisi atau ahli herba. Pastikan juga dalam berkonsultasi mengenai herba, Anda membawa hasil diagnosa, lengkap dengan pemeriksaan laboratorium yang ada.

Hasil diagnosa penting karena dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah seorang pasien perlu mendapat herba sebagai terapi utama atau pendukung, termasuk jenis herba yang paling sesuai dengan kondisi dan gejala yang ada.

Sementara pemeriksaan laboratorium bermanfaat untuk menghindari reaksi yang tidak diinginkan (kontraindikasi) antara herba dengan kondisi tubuh pasien. Sebagai contoh, jika memiliki gangguan ginjal atau hati, dokter akan mempertimbangkan herba apa yang paling aman. Pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain kadar asam urat, gula darah, fungsi hati, ginjal, dan sebagainya.

Setelah mendapat saran mengenai herba yang perlu dikonsumsi pasien, jangan lupa untuk menanyakan beberapa hal berikut ini : Bagaimana kondisi kesehatan pasien, apakah memungkinkan untuk mengkonsumsi herba? Bagaimana cara kerja herba tersebut? Apakah herba yang bersangkutan akan berpengaruh terhadap obat lain yang sedang dikonsumsi, dan bagaimana cara aman mengkonsumsinya? Berapa lama efeknya akan muncul?

Berapa lama herba tersebut dikonsumsi, dan kapan harus dihentikan (baik untuk sementara maupun seterusnya). (SA)

Check Also

Man holding red aids ribbon

Tiap 3 Menit, Satu Remaja Putri Tertular HIV

Perserikatan Bangsa-Bangsa melansir bahwa setiap tiga menit satu remaja putri yang berusia antara 15 dan …