Home / GREEN LIFE / Menjadi Green Consumer, Sekarang Juga!
Sehat alami - green konsumen- memilah sampah bersama

Menjadi Green Consumer, Sekarang Juga!

Persoalan lingkungan menjadi ancaman bagi semua negara, termasuk Indonesia. Apa yang bisa kita lakukan? Menjadi green consumer salah satu caranya.

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat penduduk Indonesia rata-rata menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk.

Sementara, menurut survey yang dilakukan Universitas Adelaide, Indonesia termasuk empat negara yang paling banyak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Hal ini dapat kita lihat dari, kerusakan lingkungan di Indonesia pada setiap tahunnya meningkat, hingga mencapai 40-50 persen dari luas wilayah Indonesia.
Wow!

Ada sampah di seluruh aktivitas manusia

Memang, seluruh aktivitas kehidupan manusia, berpotensi untuk menghasilkan sampah pada akhirnya. Salah satunya dari aktivitas makan.Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya, konsumsi makanan kalau tidak dikelola dengan baik ada ancamannya juga, seperti limbah makanan. “ Dari pengalaman, setiap tahun hampir sekitar 30 hingga 40 juta ton makanan itu menjadi limbah.

Jadi dari sisi produksi pun harus efisien dan efektif dan menggunakan tekhnologi yang ramah lingkungan. Sedangkan dari konsumen juga harus efisien dalam mengkonsumsi makanan. Kalau hanya bisa makan lima jangan beli sepuluh, karena nanti sisanya pasti dibuang. Selain menjadi sampah nantinya, itu juga merupakan pemborosan,”ujarnya dalam sebuah wawancara.Itu hanya makanan, belum lagi pakaian, produk teknologi dan lain sebagainya.

Gerakan Green Consumerism di tingkat dunia
Kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini telah memancing kekhawatiran dan keprihatinan dunia yang berpuncak dengan diselenggarakanya Earth Summit di Rio de Jenairo tahun 1992 yang membahas tentang pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan penyelamatan lingkungan serta memasukkan lingkungan hidup ke dalam arus tengah pembangunan setiap negara. Momentum ini menjadi titik tolak munculnya Green Consumerism. Negara-negara maju, seperti Jerman, Inggris, Amerika, Jepang menjadikannya sebagai salah satu isu utama dalam pembangunan lingkungan hidup.

Baca juga : Cara Mudah Menjadi Green Consumer

Sebenarnya gerakan green consumer muncul tahun 1970 sejak diperkenalkannya Environmental Impact Assessment (EIA) di Amerika Serikat. Di dalamnya perusahaan mewajibkan adanya perhitungan atas lingkungan bagi setiap rencana kegiatan yang diperkirakan berdampak besar (adverse impact) terhadap lingkungan. Konsep menginternalkan harga (cost) lingkungan dalam suatu produksi dilanjuti pula dalam konsep pembangunan berkelanjutan.

“Di Indonesia, kedua konsep di atas terinternalisasi dalam Undang-Undang No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan,” ujar Latipah Hendarti, executive director Detara Foundation. Kemudian green consumerism ini berkembang menjadi sebuah sikap politik yang meluas terutama di negara-negara maju. Pada skala kebijakan ekonomi, paradigma ini memunculkan eco labeling yaitu pemberian label ekologi yang menjamin bahwa sebuah produk tidak merusak lingkungan dalam proses produksinya.

Green consumerism dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu: Pertama, individu yang secara moral ingin melakukan perubahan dengan pendiriannya sebagai green consumer. Kedua, kelompok ironis yang mempunyai keyakinan spiritual ecosentris. Ketiga, kelompok green consumer radikal. Perkembangan green consumerism menuntut pemasar untuk lebih jeli dalam mengamati pemasar. Peranan environmental advocacy group menjadi semakin penting sehingga pemasar harus menyadari hal ini. Inovasi-inovasi yang berkaitan dengan lingkungan fisik menjadi bagian integral dalam strategi pemasaran.

Yuk jadi green consumer!

Kalau gerakan-gerakan green consumerism telah banyak dilakukan di tingkat negara, tidak berarti kita, tak perlu melakukan apapun. Secara individu, kita pun bisa menyebarluaskan gerakan peduli lingkungna ini, di tingkat terkecil, ialah diri kita sendiri.

Dalam event Pekan Lingkungan Hidup (PLH) 2013, Juni lalu, yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), green consumer adalah salah satu tema besar yang dibahas di dalamnya, kali ini green consumer di tingkat perseorangan.

Apa sih sebenarnya Green Consumer itu?
“Green consumer itu adalah pola pikir seseorang terhadap apa yang dikonsumsi dan berpartisipasi kelestarian lingkungannya,’ ujar Executive Director, Detara Foundation, Latipah Hendarti. Detara Foundation sendiri merupakan sebuah lembaga nirlaba yang aktif mengkampanyekan green consumer di Indonesia. Latipah menambahkan bahwa green consumer itu mutlak harus dilakukan sekarang, karena penggunaan potensi alam sudah luar biasa. “Kerusakan alam karena sampah hasil konsumsi manusia sungguh merusak alam. Dan itu tidak diimbangi dengan upaya untuk pembenahan pengelolaannya,” lanjut Latipah.

Sementara itu, Tasya Kamila, seorang artis yang juga hadir dalam perhelatan itu mengatakan bahwa secara gampang, yang dimaksud dengan green consumer  adalah upaya setiap orang   untuk selalu menjaga lingkungan dalam setiap tindakannya, bahkan dalam tindakan sederhana. “ Kita lakukan sehari-hari. Misalnya, tidak boros dalam menggunakan berbagai barang. Sebisa mungkin, berusaha  membeli barang berdasarkan kebutuhan,” ujar bintang iklan pasta gigi ini.

Ia menambahkan, selain sebagai langkah berhemat, tindakan tersebut juga membantu melestarikan alam. “Semakin banyak konsumsi produk, semakin banyak pula kontribusi terhadap bertambahnya sampah,” lanjutnya.

Green consumer adalah perilaku konsumen yang dilandasi motivasi, tidak hanya oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, namun juga karena kepedulian terhadap kesejahteraan sosial secara keseluruhan. Memang, menjadi  gren consumer  tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada proses edukasi, produk ramah lingkungan hingga perusahaan yang peduli terhadap lingkungan.

Di Indonesia sendiri kesadaran green consumer telah mulai menggejala. Terbukti beberapa produk ramah lingkungan dan komunitas green consumer sudah banyak lahir. Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup mengedukasi beberapa kelompok remaja untuk dididik menjadi green consumer. (NH)

Check Also

foto/Antaranews

Cara Bijak dan Ramah Lingkungan Saat Berkendara

Sebuah berita mengejutkan terjadi belum lama ini. Kota-kota besar di Tiongkok, Italia, India, dan Iran …