Home / HOLISTIC LIVING / Benarkah Sikap Marah Menunjukkan Sikap “Balas Dendam”?
FOTO | Dok. Dissolve

Benarkah Sikap Marah Menunjukkan Sikap “Balas Dendam”?

Selalu lebih baik mengungkapkan perasaan Anda daripada mengatakan kepada orang yang memicu kemarahan kita bagaimana dia harus bersikap atau berbuat.

Sehatalami.co ~ BAGI laki-laki pada umumnya, tempat kerja merupakan salah satu tempat yang paling sering membangkitkan kemarahan. Namun mengungkapkan kemarahan di tempat kerja, menurut Sandra Thomas, Ph.D., direktur Center for Nursing Research, University of Tennessee, AS, biasanya kurang menguntungkan, baik pada atasan, rekan kerja, maupun bawahan.

Bahkan meskipun Anda merasa benar dan dapat memberikan alasan yang masuk akal, sasaran kemarahan cenderung defensif dan belakangan menunjukkan sikap ‘balas dendam’.

Jika memang ada hal yang kurang memuaskan, ungkapkan dengan cara elegan, tanpa kemarahan. Simaklah nasihat Roland D. Maiuro, Ph.D., direktur Harborview Anger Management and Domestic Violence Program di Seattle, AS. Kata dia, selalu lebih baik mengungkapkan perasaan Anda daripada mengatakan kepada orang yang memicu kemarahan kita bagaimana dia harus bersikap atau berbuat.

Untuk itu, gunakan kalimat “pesan aku”. Lebih baik mengatakan “Saya kecewa Anda tidak dapat memenuhi target produksi sesuai kesepakatan di rapat” daripada mengatakan “Anda/kamu berjanji dalam rapat, sanggup menyelesaikan seluruh produksi sesuai jadwal, tapi ternyata tidak”.

Mengungkapkan dengan “pesan Anda/kamu” terkesan menuduh dan membuat lawan bicara bersikap defensif, sehingga perselisihan bisa meluas.

Marah, menurut Mara Julius, S.D., ahli ilmu epidemi psikososial University of Michigan School of Public Health, lebih banyak merugikan diri sendiri daripada orang lain. Kemarahan memperlambat kemampuan penalaran kita, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan.

Christopher Peterson, Ph.D., dari University of Michigan, yang juga menulis buku Health and Optimism, mengatakan kemarahan menyebabkan kita kehilangan rasa humor dan tampil dengan sikap bermusuhan.

READ  Olahraga dengan Perut Kosong, Benarkah?

Lha, terus ke mana harus menyalurkan kemarahan? “Olahraga”, tandas Sandra Thomas, Ph.D. Dengan olahraga, Anda dapat menyalurkan memuncaknya produksi hormon adrenalin ketika timbul perasaan marah.

Jika tidak mungkin menyalurkannya dengan olahraga, lanjut Sandra, carilah tempat yang nyaman untuk meditasi. Pejamkan mata, tarik napas dalam berulang kali. Bersamaan embusan napas, ucapkan “Saya bahagia” hingga rasa amarah luruh dari dada dan Anda benar-benar merasakan kebahagian. Atau, bisa juga dengan melakukan teknik relaksasi lainnya, seperti yoga atau taichi. (SA)

 

Check Also

Kontroversi Jika Anak Tidak Naik Kelas

Apa yang terjadi jika anak tidak naik kelas? Anak-anak menjadi bosan dan minat belajarnya luntur …