Home / HOLISTIC LIVING / Depresi, Jangan Sampai Terjadi!
FOTO | Dok. daily-news-media.com

Depresi, Jangan Sampai Terjadi!

Depresi memang menyelinap dengan diam-diam sebagai stres yang tidak teratasi. Karena tidak ketahuan dan diabaikan, stres berlanjut ke fase depresi dan bisa diakhiri dengan bunuh diri. Lalu apa yang harus dilakukan agar stres dapat segera diatasi? 

Sehatalami.co ~ Hasil survey Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa  (PDSKJ) yang pernah diumumkan pada Juni 2007, menyatakan bahwa hampir semua orang Indonesia sedang mengalami depresi. Betapa tidak, menurut survei ini 94% masyarakat Indonesia mengidap depresi dari tingkat ringan hingga yang paling berat.

Angka ini cukup mengagetkan bagi banyak orang. Depresi memang menyelinap dengan diam-diam sebagai stres yang tidak teratasi. Karena tidak ketahuan dan diabaikan, stres berlanjut ke fase depresi dan bisa diakhiri dengan bunuh diri.

“Padahal, depresi bisa disembuhkan. Dengan cara holistik, penyembuhan pun akan lebih dipercepat dan lebih tuntas,” kata Dr Tb.Erwin Kusuma, Sp Kj (K), kepada media di tempat prakteknya di ProVclinic.

Kejadian terus meningkat

Hasil pengamatan WHO (World Health Organization) juga tidak  terlalu menggembirakan. WHO tahun 2007 menyebutkan angka 121 juta (kira-kira 2%) manusia di bumi yang mengidap depresi, rata-rata berada di usia produktif, yaitu di bawah 45 tahun.

Separo dari jumlah ini, yaitu 50% pernah berpikiran untuk bunuh diri dan 15% yang betul-betul bunuh diri. Tidak mengherankan, karena hanya 30% penderita yang mendapat terapi yang memadai. Ke depan depresi telah diprediksi oleh WHO sebagai penyebab masalah utama pada tahun 2020.

Meski perempuan lebih rentan dan lebih sering terkena depresi (9.5%) dibandingkan pria (5.8%), setiap orang dari semua kelompok usia, baik lelaki maupun perempuan rentan depresi. Pada wanita yang sangat energetik seperti Mega pun, depresi bisa datang tak terduga.

READ  Inilah Tips dan Cara Mengurangi Faktor Risiko Diabetes Anda

“Biasanya ini terjadi kalau ada perubahan pada fisik, mental, atau lingkungan seseorang,” Dr Erwin menjelaskan. “Sesuai definisi WHO, orang disebut sehat jika jiwa, raga, dan kehidupan sosial atau lingkungannya sehat. “Saat menghadapi perubahan, seseorang akan mengalami ketegangan atau stres. Ia pun akan memberikan reaksi dan melakukan adaptasi. Depresi akan muncul jika ia tak bisa beradaptasi,” kata Dr Erwin. (bersambung).

Check Also

Niksen, Cara Ringan Mengatasi Stres yang sedang Tren

Niksen adalah salah satu cara melawan stres tyang sangat ringan. Metode ini sendang digandrungi masyarakat …