Home / LIFE STORY / Inspirational Figur / Dr Kasim Rasjidi, SpPD(K), SpJP, MHA,: Sejatinya Kita adalah Sehat, Unik, dan Beda!

Dr Kasim Rasjidi, SpPD(K), SpJP, MHA,: Sejatinya Kita adalah Sehat, Unik, dan Beda!

Saat ini pola makan masyarakat kita sudah berubah, dari pola makan sehat alami ke pola makan serba instan dan serba kemasan. Segala jenis makanan dan buah-buahan pun kalau perlu harus diimpor, karena mereka merasa malu jika harus mengonsumsi buah dan sayur dari negeri sendiri. Saatnya kembali ke potensi diri.

”Ketidaknyamanan yang kita rasakan dalam tubuh, apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan sinyal bahwa ada sesuatu yang telah menyimpang dari yang seharusnya, tetapi tidak kita sadari. Sebenarnya, tubuh memiliki mekanisme sendiri dan unik untuk menyampaikan pesan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki,”ujar Dr Kasim Rasjidi, Dr Kasim Rasjidi, SpPD(K), KKV, DTM&H, MCTM, SpJP, MHA, LMPNLP, ELT, CCH., seorang life coach and counselor.

Dokter yang memiliki latar belakang sebagai dokter spesialis penyakit dalam, spesialis jantung dan pembuluh darah, serta sederet gelar akademik dan spesialis lain, ini mengatakan bahwa  mungkin karena terlalu sibuk, sehingga orang sering tidak mampu lagi mendengar suara dari dalam tubuh sendiri dan tak cukup peka untuk berterima kasih kepada  tubuh yang selama ini telah berjasa menopang dan membawa jiwa dan ruh kita ke mana-mana.

Akibatnya, sebagian orang baru menyadari perlunya menjaga diri dan mencari-cari cara hidup sehat setelah tubuh tidak dapat menanggung sakit yang ditimbulkan. Tidak jarang, alih-alih mengambil tanggung jawab urusan kesehatan di tangan sendiri secara mandiri, yang terjadi justru banyak masyarakat yang menggantungkan atau menyerahkan masalah kesehatan tubuh pada pihak lain.

Saatnya Kembali ke Fitrah

Sikap hidup dan pandangan Dr Kasim ini ternyata lahir dari proses hidup yang panjang. Lahir di  Montreal, Canada, saat masih kecil ia bercita-cita menjadi arsitek atau psikolog. Tetapi, begitu tamat SMA, ia malah ingin jadi seorang dokter. Saat  itu ia berpikir, toh sambil sekolah kedokteran, ia masih bisa belajar arsitektur secara outodidak.

Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), ia mengambil spesialis ilmu penyakit dalam (SpPD) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), lulus 1996. Selanjutnya ia mengambil spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) di kampus yang sama. Belum merasa cukup, sambil bertugas di RS Jantung Harapan Kita, ia menuntaskan hasratnya untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan spesialis lain, bahkan sampai ke berbagai negara. Namun, semakin banyak disiplin ilmu dan keahlian spesialisasi yang ia kuasasi, justru semakin menimbulkan banyak pertanyaan di dalam diri, ”Betulkah ini semua yang saya butuhkan?”ujar dokter yang juga seorang host untuk acara talkshow Hidup Sehatdi radio SMART FM.

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan justru semakin menggelitik. Dan puncaknya sekitar 2008, saat ia harus menolong seorang pasien, tetapi lantaran ia sedang berada di luar kota, ia tidak bisa berbuat banyak, antara lain juga lantaran tidak memungkinkan menunda jadwalnya dan di saat bersamaan tidak ada dokter lain yang bisa menggantikan posisinya. ”Lama saya merenung sampai akhirnya timbul pertanyaan, sebenarnya saya bisa menolong atau tidak, sih? Dan, apa yang saya lakukan sudah benar apa belum, sih?”

Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya mengantarkannya pada suatu pemikiran bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan seseorang, sistem yang ada di dalam diri klienlah sesungguhnya yang mesti dipelihara dan diperbaiki.

Antara lain dengan cara menemukan apa yang terbaik sesuai potensi yang dimiliki oleh setiap klien. Jadi bukan semata-mata seperti yang selama ini dilakukan, yakni meng-injeksikan atau memasukkan sistem ke dalam tubuh seseorang. ”Karena itu sama artinya dengan mengeluarkan klien dari ketidaknyamanan hidup, tetapi memasukkan kembali ke dalam lingkaran hidup lainya. Katakanlah, ketergantungan terhadap keharusan mengonsumsi obat atau menjalani terapi tertentu selama hidupnya, ” ujarnya.

Padahal di sisi yang lain, setiap orang pastilah memiliki potensi untuk bisa menjalani hidup secara lebih baik dan mandiri. ”Bukankah jika dilihat dari fitrahnya, katakanlah, manusia Indonesia, itu mestinya dapat hidup secara layak, sehat walafiat, jasmani maupun rokhani?” tanyanya.

Dr Kasim lalu membeberkan sejumlah potensi yang Tuhan ciptakan untuk mendukung pendapatnya. Tanah, air, dan lingkungan hidup di Indonesia sangat kaya. Aneka tanaman berkhasiat dan bahan pangan, serta buah dan sayur yang  berwarna-warni yang mencerminkan kandungan dan nilai gizi di dalamnya, semua ada di Indonesia. Air – sumber kehidupan – juga melimpah. Cahaya matahari pun hadir sepanjang tahun. Bahkan, buah – buahan surga yang notabenenya disebut-sebut di dalam kitab suci, seperti anggur, delima dan lain-lain pun ada di Indonesia. ”Jadi, apa lagi yang kurang dan tidak kita miliki, sebagai modal untuk bisa menjalani hidup sehat,” ujar Dr Kasim.

Saatnya Peka Terhadap Perubahan pada Tubuh

Tantangannya, sudahkah kita memanfaatkan sumber  alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia untuk mendukung hidup sehat dan seimbang? Sayangnya, saat ini tradisi yang sudah berlangsung sekian lama dan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam di Indonesia untuk menjalani hidup sehat sudah mulai tergerus. Pola makan masyarakat kita sudah lama berubah, dari pola makan sehat alami ke pola makan serba instan dan serba kemasan. Bahkan,  segala jenis makanan dan buah-buahan pun kalau perlu harus diimpor, karena mereka merasa malu jika harus mengonsumsi buah dan sayur dari negeri sendiri.

Menurutnya lagi, saat ini, masyarakat Indonesia sedang gandrung atau latah dengan budaya konsumtif. Yang tidak tersadari, gelembung pertumbuhan kelas menengah masyarakat di Indonesia ( kelompok berpenghasilan > Rp 50 juta ) terus bertumbuh, tetapi banyak diantaranya ikut arus dan terhanyut, terdikte oleh budaya yang dimpor dari negera lain. Apa-apa tolok ukurnya materi atau serba bendawi. Dan mereka merasa belum dianggap modern jika belum makan jenis makanan dan minuman instan, serba diproses, atau mengenakan produk impor.

”Tetapi anehnya, mereka  ini sering bilang, ini gue banget,” kata Dr Kasim.”Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah dengan pola makan tidak sehat itu, secara tidak langsung mereka sedang menyakiti diri sendiri dengan memasukkan  ”sampah” dan membuat ”comberan” di dalam tubuh mereka,” lanjut Dr Kasim.

Sebab,  tanpa mereka sadari, yang terjadi sesungguhnya makanan-makanan berlemak yang mereka konsumsi dengan konsep ”gue banget” itu  justru akan menjadi tumpukan lemak dan kolesterol di dalam tubuh. Yang jika dibiarkan terlalu lama, dapat membuat organ tubuh harus bekerja ekstra dan  kerja jantung semakin berat untuk memompa darah dan mengalirkan nutrisi ke seluruh anggota tubuh.

Karenanya tak mengherankan jika data terakhir di Indonesia menyebutkan, kematian akibat gangguan penyakit jantung di Indonesia mencapai 250/tahun. Angka kematian karena diabetes di Indonesia mencapai 40 ribu orang / tahun. Dan kasus gangguan kesehatan karena kolesterol dan hipertensi serta problem obesitas menempati urutan teratas problem kesehatan yang sering dikeluhkan masyarakat di Indonesia. ”Semua itu kuncinya terletak pada gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat,” kata Dr Kasim.

Hal lain yang sering terabaikan adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan kelimpahan cahaya matahari sepanjang tahun untuk mencegah terjadinya osteoporosis. Padahal, cahaya matahari di pagi hari dapat mengaktifkan vitamin D dan berguna untuk membentuk kalsium di dalam tubuh. ”Karenanya berbahagialah individu-individu yang secara sadar aktif dan memiliki hobi olahraga di pagi hari. Mereka inilah yang bisa mendapatkan manfaat dari cahaya matahari di pagi hari, ” tutur Dr Kasim.

Dalam setiap kelas edukasi baik dalam setiap event reguler di kelas Medical Meditation for Health dan Impactfull Healing by You bersama Majalah Sehat Alami maupun pada setiap siaran bersama SmartFM, Dr Kasim selalu menekankan pentingnya menjaga kesehatan dengan memulai dari diri sendiri. Sebab menurutnya,problem mendasar runtuhnya tradisi dan fitrah manusia untuk hidup sehat ternyata lebih disebabkan oleh hilangnya kesadaran dan tanggungjawabnya pada eksistensi diri.

Ada banyak orang mengeluhkan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Tetapi tidak mau tahu bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah tubuh sedang memberitahu kepada dirinya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam perjalanan hidupnya. Ada sesuatu yang telah menyimpang dari fitrahnya sebagai manusia. Karenanya, jika ingin hidup sehat selaras dan berkualitas, sudah saatnya setiap diri untuk peka terhadap setiap perubahan yang terjadi pada tubuh, dan menerima identitias dirinya yang sejati. Yakni, sehat, unik, dan beda! (SA)

Check Also

Ada 600.000 Anak-Anak Meninggal Akibat Pencemaran Udara Tiap Tahun

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pencemaran udara telah membunuh sekitar 600.000 anak-anak tiap tahunnya.  …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *