Home / Eco-Preneur / Energi Alternatif, Kreasi dan Inovasi Pemuda Desa

Energi Alternatif, Kreasi dan Inovasi Pemuda Desa

Di arena pameran energi di Jakarta, belum lama ini, sebuah sepeda motor tua nampak dikerumuni pengunjung. Bukan karena sekadar keunikannya. Tetapi, juga karena kemampuan pemiliknya dalam berinovasi :  mengganti bahan bakar BBM dengan tabung gas 3 kilogram yang biasa dijual di warung sebagai bahan baku penggerak mesin atau motor.

Adalah Sulaiman Budi Sunarto sang inovatornya. Pria Karanganyar, Jawa Tengah ini memang mendesain khusus motor tenaga gas yang saat ini digandrungi masyarakat Solo dan sekitarnya. Lelaki separuh baya ini menuturkan, bahwa motor gas modifkasinya itu sanggup menempuh jarah 600 kilometer dengan hanya menggunakan tabung gas ukuran 3 kilogram sebagai bahan bakarnya. Ia menambahkan bahwa tabung gas tersebut bisa diikatkan pada bagian belakang jok motor. ”Nantinya akan lebih rapi kalau tabung itu disimpan pada boks yang biasa dipakai oleh para pengendara sepeda motor. Kebetulan kalau ukurannya yang gede sangat pas,” ujar Budi. Bagaimana dengan keamanannya? “Kita jamin aman. Sebab selama ini belum ada keluhan,”katanya menandaskan.

Banyak lagi penemuan-penemuan baru yang menjadikannya salah satu inovator berprestasi. Dengan bendera Koperasi Serba Usaha Agro Makmur di Desa Doplang, Karanganyar, ia berhasil memberdayakan potensi pedesaan yang kaya akan sumber daya alam. “Semua yanghijau bisa difermentasi menjadi bahan bakar alternative,” katanya suatu ketika.

Buah ketekunanannya di bidang energi alternatif, menghasilkan setidaknya 33 temuan yang sebagian besar terkait pengembangan energi alternative. Sebagian lagi terkait dengan agroindustri. Beberapa hasil temuannya antara lain, bioetanol padat, kompor bahenol, budidaya jamur, bakteri pengurai, hingga temuan yang terakhir, pelet kotoran sapi. Sayangnya, dari sekian banyak temuan itu, belum satupun yang ia patenkan.

Yang menarik dari bioethanol padat ini adalah bisa dipotong sesuai dengan kebutuhan, sehingga distribusinya lebih praktis dan mudah. Lalu ada albakos, kependekan dari alat biogas konsumsi sampah. Alat produksi yang sederhana berupa dua drum kaleng yang terhubung dengan selang dan kompor gas ini, berfungsi sebagai pengolah sampah kering menjadi biogas yang bisa dijadikan energi untuk menyalakan kompor. Tidak hanya itu, alat tersebut juga bisa dipakai untuk menyaring biogas menjadi zat metana murni. Selanjutnya, zat metana murni ini bisa dipakai sebagai pembangkit generator listrik.

READ  Ini Dia Cara Membuat Sendiri Sayuran Kecambah!

Tak ingin terus berinovasi, saat ini, ia masih terus mengembangkan rekayasa sumber energi dari sumber daya pedesaan. Dan kini, sedikitnya, ada 20 teknik rekayasa untuk berbagai keperluan di Desanya telah ia ciptakan. Beberapa diantaranya, pengembangan produksi bioetanol dari singkong menjadi bahan bakar nabati.

Check Also

Menunggu Keputusan Akhir Gugatan MUI di MK Soal Tak Lagi Berwenang Keluarkan Sertifikat Halal

Adapun hakim konstitusi Aswanto meminta LPPOM MUI menegaskan lagi masalah yang ada di lembaga tersebut. …