Home / HOLISTIC LIVING / Karir Lebih Mentereng dengan Emotional Quotient, Benarkah?
FOTO | Dok. mamikos.com

Karir Lebih Mentereng dengan Emotional Quotient, Benarkah?

  • Emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosi membantu seseorang lebih fleksibel menghadapi situasi baru. Membantu mendapatkan suasana nyaman bahkan dalam situasi tertekan.
  • Itulah mengapa, seorang dengan EI yang baik, bisa lebih mudah mendapatkan sukses dalam berkarir. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sehatalami.co ~ Anda mungkin sering mendengar kisah sukses pengusaha muda, yang saat masih sekolah atau saat di bangku kuliah prestasinya cenderung biasa-biasa saja. Namun beberapa tahun kemudian, ia menjelma menjadi pengusaha sukses atau menjadi puncak pimpinan atau Chief Executive Officer (CEO) perusahaan top di dunia.

Sukses dan berhasil duduk di posisi puncak prestasi di usia muda. Ada banyak contoh individu sukses di katagori ini. Sebagian meniti karirnya melalui jalur normal. Menempuh jalur pendidikan resmi dan lulus dengan prestasi gemilang.

Lalu mulai berkarir di dunia kerja dan berhasil sukses. Ada juga yang memulai usaha justru saat masih duduk dibangku kuliah. Sukses dan kemudian memilih menekuni karir di dunia yang diciptakannya.

Di dunia sosial media ( Sosmed), kita sudah sering mendengar kisah Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook. Seperti halnya, Bill Gates, dengan alasan sudah menemukan apa yang ia cari, Mark Zuckerberd, pemuda kelahiran 14 Mei 1984, ini juga memilih drop out dari kampusnya Harvard University untuk menekuni situsnya itu.

Dikutip dari majalah Forbes, Mark Zuckerberg adalah billionaire termuda dunia saat ini. “Dan kami yakin ia adalah billionaire ter muda sepanjang sejarah yang mengumpulkan sendiri kekayaannya,” ujar Matthew Miller, associate editor Majalah Forbes.

Jika kebanyakan anak muda yang masuk dalam jajaran orang terkaya dunia melalui warisan orang tuanya, Mark tidaklah demikian. Sehingga majalah Forbes menobatkan Zuckerberg sebagai “The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet” tahun 2008.

READ  3 Tips Jitu Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

di Tanah air, ada sekian banyak individu dengan prestasi luar biasa di usia muda. Berhasil memuncaki piramida teratas, top managemen tempatnya bekerja. Untuk menyebut sebagai contoh kecil misalnya ada nama-nama tenar seperti Yorris Sebastian, Ippo Santoso, Billy Boen, ketiganya sukses di usia relatif muda.

Bisa dan berhasil menjadi seorang CEO yang sukses di bidangnya masing-masing. Ketiganya kini kerap tampil menjadi seorang motivator untuk berbagi inspirasi karena sukses yang sudah mereka dapatkan.

Tidak ada rumus baku untuk sukses

Situasi kebalikannya sering terjadi di dunia bisnis dengan organisasi yang sudah mapan. Banyak talent muda berbakat dengan kompetensi dan skill individu yang mumpuni. Juga ada banyak talent yang sebenarnya sudah mempersiapkan diri di dalam organisasi sebagai pemimpin di masa depan. Namun tak kunjung mendapatkan promosi dan posisi strategis di level manajemen di struktur organisasi perusahaan. (bersambung). 

Check Also

Mencegah dan Mengatasi  Osteoporosis atau Pengapuran  

Osteoporosis merupakan penggambaran proses kerusakan  tulang rawan yang menjadi bantalan setiap sendi. Gejala utamanya munculnya …