Home / Headline / Menjinakkan Radikal Bebas, Memperlambat Proses Menua
FOTO | Dok. www.thelifeco.com

Menjinakkan Radikal Bebas, Memperlambat Proses Menua

Menua adalah proses alamiah pada setiap manusia. Masalahnya adalah bagaimana kita mengelola faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses menua agar tidak semakin memperburuk atau mempercepat proses penuaan tersebut.  

Sehatalami.co ~ Normalnya tubuh akan selalu meremajakan diri. Bersifat dinamis, karena setiap hari sel-sel tubuh akan terus memperbaharui diri. Sel-sel yang menyusun tubuh, memiliki usia tertentu yang kemudian akan diganti lagi dengan sel yang baru. Namun, pada akhirnya, semua sel – sel akan mengalami kematian secara total. Itu mengapa menjadi tua sejatinya adalah alamiah.

Sepanjang usia kehidupan akan terjadi efek proses penuaan pada tubuh kita, yang berlangsung terus sampai batas – batas tertentu. Akan muncul proses degenerasi (penuaan) dari semua organ tubuh. ”Menjadi tua adalah alamiah, namun percepatan atau perburukan proses degenerasi adalah kesalahan manusia. Usia boleh tua tetapi tubuh harus tetap sehat. Jadi, istilah yang tepat adalah awet sehat, bukan awet muda,” jelas Prof. DR. dr. Arief Adimoelja, SpAnd., dari RS Ramelan, Surabaya.

Dalam bukunya Prof. dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, menyatakan, penuaan ditandai dengan menurunnya fungsi berbagai organ tubuh. Gejala menua tampak pada fisik dan psikhis. Tanda fisik misalnya, masa otot berkurang, lemak meningat, fungsi seksual terganggu, sakit tulang dan kemampuan kerja menurun. Tanda psikis berupa sulit tidur, mudah cemas, mudah tersinggung, gairah hidup menurun dan merasa sudah tidak berarti lagi.

Radikal Bebas

Konsep yang berkembang saat ini adalah teori radikal bebas. Menurut teori ini, yang berperan jahat adalah oksigen. Agar menjadi stabil, molekul oksigen harus memilki 2 elektron di kulit terluarnya. Jika ia hanya memiliki 1 elektron, maka oksigen akan mati-matian mencari pasangan elektronnya.

READ  Menyusun Menu Menurut Diet Golongan Darah

Sedangkan jika memiliki 3 elektron, ia akan gila-gilaan mencari tempat untuk membuang satu kelebihan itu. Dalam hal ini, berarti molekul oksigen yang tidak stabil sangat reaktif dan dapat berkombinasi dengan molekul yang stabil.

“Akibatnya, molekul yang awalnya stabil menjadi tidak stabil atau rusak. Hasilnya adalah kerusakan sel tubuh, yang akhirnya menyebabkan apa yang disebut sebagai penuaan,” ujar Prof. Arif. (bersambung). 

Check Also

Menkes: Hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019, Prevalensi Stunting Menurun

Penurunan prevalensi stunting menandakan bahwa lima pilar penanggulangan stunting sudah mulai jalan dengan baik. Share this …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *